Thursday, February 28, 2019

Podcast is the next big thing, is it?

Audio Content or Podcast is really happening now in Indonesia. Yes it's already happening in the US and other countries but this thing is really getting the attention. If you are working in a media, agency or anything about content, you should really pay attention to this while it's hot.

I give you several articles about Podcast and why Podcast/Audio Content is gonna be big:


Today i wanna share my experience with Podcasting in Indonesia. I've started my first Podcast in 2017 when i just knew about Anchor FM. It's called LEVEL UP by Benakribo. I talk about education, motivational things for the yougsters, parenting, content creation, social media and so on. And in just no time, my podcast got into Spotify, Apple Podcast, Google Podcast and other platform.

After about a thousand views/plays, i was in no 1 chart in Apple Podcast, and also in no 1 chart in Spotify for several days. So, there are very few people listening to Podcast, that time.

But this year, in early 2019, it took me more than 30.000 views/plays to get into Apple or Spotify Podcast Chart. So as you can see, the traffic is somehow 30 times bigger than 2017.

So what's so special about Audio Content?

  1. You don't have put your eyes all the time to the screen/smartphone.
  2. You can do other activity while listening to a Podcast.
  3. For some people, Audio content is faster to access (almost no buffering) and cheaper to get (talkin' about fakir quota). Because the audio file is way smaller than audio visual.
  4. You can listen while you're on the Ojek Online, in the car, while washing the dishes, while cooking, or before you sleep.
  5. The future house/home will be controlled by Audio. Talking about Google Home, Alexa, Siri and so many things. It can be controlled by Audio, so we are going there.
  6. As a Bonus, now, so many developers are creating apps/audio programs to be put inside any Smart Speaker like Alexa. And yes, they're creating programs for childrens. Imagine your children will be playing with Audio. No visual. That's way better than looking at the screen, so it will cut their screen time.

You're probably thinking, "is there any money on Podcasting?" YES. But not yet in Indonesia. The CPM for Audio Content is big in US (based on Anchor), but it hasn't touched Indonesia. But if you're an agency or a brand, there are a lot of Indonesian Podcasters that you can ask for a collaboration (me! me! me!).

I think that's what i can share now. If you're interested in Podcasting, you can connect with me at benakribo[at]gmail.com.

- Benazio, 2019.
Share:

Friday, January 11, 2019

Monday, November 26, 2018

Sunday, November 25, 2018

Family Time = Quality Time



Happy foto di parkiran kosong, banyak lampu sambil liat bulan. Kalo weekend jalan-jalan suka bikin dilema, pengen makan di mall tapi biasanya penuh banget sampe sumpek kebanyakan manusia. Tapi kalo nggak ke mall, tetep permasalahannya bingung mau pergi ke mana, hehe.


- Benazio, 2018.
Share:

Saturday, November 17, 2018

Tuesday, November 13, 2018

Tuesday, November 6, 2018

Gue sudah terlalu berat..

Jangan salah sama judulnya, bukan click bait, tapi memang sesuai artinya, gue sudah terlalu berat. Bukan saja beban hidupnya (eits ini masalah lain), tapi sekarang paling berat itu badannya. Literally berat badannya.

Maafkan gue ya blog, giliran curhat gue balik ke sini lagi. Tapi semoga ini bisa menjadi saksi yang nggak bisu-bisu banget dalam momen-momen curhat gue.

Sebenernya berat badan gue nggak berat-berat banget, malah sebenernya cukup ideal. Masih cukup banyak juga yang kalo ketemu gue bilang gue kurusan. Tapi sebenernya permasalahnnya bukan di berat badannya, tapi DIMANA berat badan itu bertengger. Yup, di perut. Gue udah menjadi tipikal seorang bapak-bapak, yang biasanya kalo udah nikah, udah punya anak, itu perut ikutan hamil. Perut gue buncitnya udah nggak karuan. Biasanya gue dibilang lebay, tapi emang beneran karena kalo gue ke luar rumah pasti gue selalu tahan, pake baju yang warna gelap supaya nggak gitu keliatan lekukan perut gue.

Udah begitu banyak diet yang gue pernah coba, tapi entah kenapa, gue lebih suka disuruh kerja sampe malem, begadang, kerja kesana kemari daripada disuruh nahan makan. Susah banget asli. Diet keto kiti kitu udah gue cobain, tapi tetep aja nggak bisa gue berkomitmen.

Gue pernah juga nonton salah satu film di Netflix judulnya Explained: Diet. Sebuah series dari VOX, kebetulan episode itu ngomongin diet. Singkat cerita, intinya diet itu nggak bisa 100% cocok buat semua orang, balik lagi tergantung dari orang tersebut. Lifestylenya, lingkungannya dan berbagai hal lain yang bisa jadi faktor bahwa dietnya itu sulit sukses.

Tapi di ujung dokumenternya naratornya bilang, intinya, diet itu simpel banget, kita hanya tinggal harus menurunkan jumlah kalori harian kita setiap harinya. TITIK.

Intinya cuma perlu kurangin aja porsi makannya.

Gue udah pernah cobain 30 hari tanpa nasi. Berhasil turunin berat badan gue 2kg. Tapi cukup sampai disitu aja. Gue nggak lanjutin lagi. Lalu beberapa minggu yang lalu gue lagi ngobrolin soal diet di salah satu grup whatsapp gue dan menemukan beberapa kata yang 'menyinari' gue.

"Diet itu nggak boleh ada target. Karena kalo udah mencapai target, ntar kita udahan dietnya terus balik lagi deh berat badannya."

Jadi nggak usah ditargetin. Karena konon katanya maintenance berat badan lebih sulit dari pada nuruninnya. Jadi nggak usah cepet happy kalo udah berhasil nurunin berat badan, belom tentu bakalan stay disitu, karena biasanya banyak banyak orang yang justru naik lagi lebih banyak setelah turun beberapa kilo karena makannya nggak dijaga.

Anyway, setelah itu semua, sepertinya kali ini gue menemukan cara yang hopefullyyyyyyyyyy sangat tepat buat gue. Meskipun cukup mahal, tapi kalo rajin makan di rumah dan mengurangi makan di luar rumah, jatohnya nggak mahal-mahal banget. Apakah itu?

Gue mengganti NASI dengan Shirataki Rice. Mungkin kalian udah pernah denger. Nah, shirataki rice ini kalorinya bisa mulai dari 1/2 sampe 1/10 dari nasi. Tergantung merk. Ada yang kalorinya lebih kecil ada yang nggak kecil-kecil banget karena mungkin udah ditambah macem-macem. Ada yang kering ada yang basah juga.

Nah dengan begini, gue bisa hidup dengan normal, tanpa harus diet macem-macem, gue hanya cukup mengganti nasinya aja. Lagipula, rasa Shirataki rice ini enak kok, mirip sama Nasi. ya 50-60% mirip kok, coba-coba aja shirataki rice dari berbagai bentuk dan merk sampe nemu yang paling pas. Harganya? Bisa 2-3x lipat dari harga beras biasa. Tapi kalo mau mengurangi berat badan, gue rasa ini worth it. Dan juga sehat, ngurangin karbo, ngurangin gula juga jadinya.

Selain itu, gue juga coba banyakin minum air putih, dan kurangin minuman manis. Meskipun masih cukup sering, tapi balik lagi, gue selama ini mencari cara yang mudah, tanpa harus mengubah drastis pola makan harian gue.

Sekarang baru hari ke-2. Berat awal gue sekitar 73.5.
Gue akan update lagi di sini, semoga dalam 30 hari udah berasa banget turunnya. Dan semoga perut buncit gue ini bisa kembali normal, dan celana-celana gue yang udah banyak banget nggak bisa kepake, bisa kepake lagi. AMIN YA ALLAH.

Ga kerasa ngomongnya udah panjang juga, padahal gue belom ngomongin soal kolesterol nih, salah satu penyakit yang sepertinya ada di gue juga, belom cek sih, insya Allah secepatnya pengen general check up, tapi pelan-pelan mulai kurangin makanan yang kolesterol tinggi juga.

OH WELL, udah mulai kayak blog HIDUP SEHAT YAH! Hahahaha.
Lanjut ngedit video dulu, lagi bikin Online Course nih.

See you later, blog.
:*


- Benazio, 2018.
Share: